STPI – Konsultan Pengelolaan Kampanye Media Sosial Untuk Perubahan Perilaku Orang Dengan Gejala Tuberkulosis 173 views

Job Expired

Latar Belakang

Lebih dari setahun COVID-19 telah menguras tenaga, waktu, dan perhatian Pemerintah, dunia usaha, dan berbagai lapisan masyarakat untuk bertahan di tengah pandemi. Sementara pandemi membuat kita tertekan, masalah penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC) terus melaju. Pada tahun 2019, WHO menerangkan Indonesia, negara dengan peringkat kedua di dunia, menyumbang 845.000 pasien terinfeksi TBC atau 8 persen terhadap angka kejadian TBC dunia setiap tahunnya. Kondisi ini diperkirakan memburuk akibat merosotnya angka diagnosis dan cakupan pengobatan TBC di masa pandemi.

Menurut kajian modelling Stop TB Partnership, USAID, dan Imperial College UK, lockdown 3 bulan dan upaya pemulihan 10 bulan dapat memundurkan upaya penanggulangan TBC lima hingga delapan tahun ke belakang akibat peningkatan 6,3 juta kasus baru dan 1,4 juta kematian diantara 2020 dan 2025[1]. Survei Stop TB Partnership Indonesia (Juni 2020) bersama Aisyiyah, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama, Perhimpunan Organisasi Pasien, dan Sub Direktorat Tuberkulosis juga mengindikasikan upaya penanggulangan TBC berbasis masyarakat sempat terhenti ketika pandemi melanda[2]. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan cakupan pengobatan TBC secara nasional pada 2020 menurun empat puluh dua persen dari tahun 2019. Apabila tidak mendapatkan perhatian dan komitmen yang serius untuk mengakselerasi eliminasi TBC, target Indonesia untuk eliminasi TBC di 2030 dapat tidak tercapai.

Situasi pandemi memberikan kesempatan baru bagi pemangku kepentingan program TBC untuk memulihkan upaya-upaya mengejar Eliminasi TBC secara lebih efektif. Akses terhadap pelayanan kesehatan untuk TBC yang menurun di masa pandemi dapat ditingkatkan dengan mempromosikan perubahan perilaku yang tepat pada orang -orang dengan gejala TBC melalui kampanye digital. Upaya promosi kesehatan merupakan salah satu intervensi utama dalam Strategi Nasional Penanggulangan TBC 2020-2024 yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis (Perpres No. 67/2021).

Pada 19 Agustus 2021, Pemerintah Indonesia meluncurkan Perpres tersebut untuk menjawab tantangan multi-dimensional dalam memutus rantai penularan penyakit TBC yang pada dasarnya dapat dicegah, dideteksi, dan diobati. Kebijakan ini mendemonstrasikan keseriusan Indonesia mencapai salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 yaitu Eliminasi TBC setelah meratifikasi Political Declaration on the Fight Against Tuberculosis pada Sidang Umum PBB 2018. Salah satu pasal dalam Perpres No.67/2021 adalah promosi kesehatan yang dilakukan melalui kegiatan advokasi, komunikasi, dan mobilisasi sosial dengan jangkauan yang luas seperti:

  1. Penyebarluasan informasi yang benar mengenai TBC ke masyarakat secara masif melalui saluran komunikasi publik;
  2. Penyelenggaraan upaya perubahan perilaku masyarakat dalam pencegahan dan pengobatan TBC;
  3. Pelibatan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan influencer media sosial untuk menyebarkan materi komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai TBC; dan
  4. Penyampaian informasi kepada masyarakat mengenai pelayanan TBC yang sesuai standar

Merujuk pada hasil Survei Monitoring Protokol Pelayanan TBC di Masa Pandemi COVID-19[3], orang-orang dengan gejala batuk seperti TBC semakin enggan untuk memeriksakan diri karena takut tertular dan/atau terdiagnosis COVID-19 jika melakukan pemeriksaan. Kurang tepatnya perilaku mencari pelayanan kesehatan diantara orang yang memiliki gejala TBC juga terjadi sebelum pandemi[4]. Dalam kondisi pandemi COVID-19 dan di wilayah endemis TBC seperti Indonesia, promosi kesehatan untuk mempromosikan perilaku mencari layanan yang tepat semakin diperlukan.

Menurut teori Transtheoretical Model for Behavioral Change oleh Prochaska & DiClemente, terdapat 6 tahapan perubahan perilaku yang dimulai dari pre-contemplation, contemplation, preparation, action, maintenance, dan relapse[5]. Dalam program hibah ADVANCE-TB, STPI menargetkan perubahan pada tahap pre-contemplation hingga preparation untuk mendorong masyarakat dengan gejala TBC, terutama batuk lebih dari dua minggu, untuk melakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan dengan alat diagnosis TBC. Guna mendukung perubahan pada tahap-tahap tersebut, mengadopsi Social Learning Theory, diperlukan suatu kampanye yang menargetkan proses-proses kognitif antara individu dengan perilakunya seperti pengetahuan, ekspektasi, dan sikap[6].

Adapun respon yang ingin diharapkan pada sasaran perubahan perilaku yakni:

 DariMenjadi
BerpikirBatuk dapat diobati dengan pengobatan sendiri yang tersedia di toko obat/apotek

 

 

Itu hanya batuk biasa

Mengobati batuk terus-menerus (2 minggu/lebih) membutuhkan pemahaman yang akurat tentang penyebabnya

 

Batuk terus-menerus bisa menjadi masalah serius yang mengindikasikan penyakit TBC

Merasa“Instan”; Cepat dan tidak perlu antri di toko obat/apotek seperti di fasyankes

 

 

“Kenyamanan”; Percaya bahwa batuk terus-menerus dapat disembuhkan melalui pengobatan sendiri

 

 

 

“Aman”; Lebih ada privasi tentang kondisinya jika tidak ke fasyankes, menghindari keluarga/tetangga mengetahui ada yang sakit saat mengunjungi puskesmas/rumah sakit

 

 

“Kualitas”; Persepsi fasilitas swasta lebih baik (kredibel, profesional, layanan unggul) daripada layanan kesehatan publik

“Instan”; Pemulihan lebih cepat dari batuk persisten dengan perawatan yang akurat berdasarkan diagnosis

 

“Kenyamanan”; Dalam menghentikan batuk, mendapatkan informasi akurat dari profesional medis yang kredibel, mengajukan pertanyaan kepada ‘orang yang tepat’ (dokter), pengobatan gratis

 

 

“Aman”; Bertindak secara bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang yang dicintai dengan mengakses layanan kesehatan dengan fasilitas diagnostik untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan yang akurat

 

 

“Kualitas”; Layanan kesehatan publik dan swasta memiliki standar yang sama untuk menerima diagnosis tepat waktu untuk gejala TBC

MelakukanOrang yang batuk selama 2 minggu atau lebih terus melakukan pengobatan sendiri (yaitu, mengganti sirup/merek obat) dan tidak mengakses fasilitas diagnostikOrang yang batuk selama 2 minggu atau lebih mengakses fasilitas kesehatan dengan layanan diagnostik TBC

 

Kampanye yang dapat digunakan untuk saat ini adalah kampanye digital, salah satunya memanfaatkan media sosial. Kampanye melalui media sosial dianggap lebih efektif dan efisien dibandingkan kampanye lewat media konvensional[7]. Pada era digital 4.0 ini, penggunaan media sosial meningkat dari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta. Artinya, jumlah pengguna media sosial di Indonesia setara dengan 61,8 persen dari total populasi pada Januari 2021. Angka ini juga meningkat 10 juta, atau sekitar 6,3 persen dibandingkan tahun lalu[8].

Tingginya pengguna media sosial memberikan peluang yang besar dalam mempengaruhi seseorang untuk mengalami perubahan perilaku. Dalam digital social marketing, hal yang perlu diperhatikan adalah siapa yang akan menyampaikan pesan kampanye di media sosial. Saat ini, istilah influencer menjadi hal yang lumrah di masyarakat. Influencer merupakan seseorang atau kelompok yang dapat memberikan pengaruh kepada para pengikutnya. Dengan jumlah pengikut yang banyak, tak jarang pesan yang disampaikan oleh influencer dapat mempengaruhi keputusan seseorang untuk mengambil tindakan. Hal ini dikarenakan influencer memiliki otoritas, pengetahuan, posisi, atau karena hubungannya dengan publik/audiens, menjadikannya mudah sekali untuk diikuti oleh ratusan hingga jutaan orang.

Merujuk pada penjelasan di atas, pelibatan influencer dalam kampanye perubahan perilaku memungkinkan kampanye ini menjadi lebih efektif dan efisien. Oleh karena itu, Stop TB Partnership Indonesia berinisiatif untuk melibatkan influencer pada kampanye media sosial untuk perubahan perilaku orang dengan gejala tuberkulosis. Diharapkan para influencer media sosial dapat memberikan dampak positif untuk mengajak masyarakat serta dapat meningkatkan perilaku untuk memeriksakan diri pada layanan kesehatan ketika memiliki gejala tuberkulosis.

 

 

Tujuan Umum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan Khusus

STPI bertujuan untuk melakukan kampanye publik berkaitan dengan perubahan perilaku atau behavioral change communications campaign (BCC) untuk mempromosikan suatu perilaku yang positif pada individu dan masyarakat yang memiliki gejala batuk lebih dari 2 minggu untuk melakukan pemeriksaan di layanan kesehatan dengan fasilitas diagnosis.

 

  1. Pelibatan duta TBC STPI untuk menyampaikan pesan bahwa orang dengan gejala TBC tidak akan terpapar resiko dalam mengakses layanan kesehatan.
  2. Mendukung promosi kesehatan berbasis masyarakat terkait perilaku pencarian pelayanan kesehatan oleh orang dengan gejala TBC melalui pelibatan influencer lokal dan nasional.
  3. Mempromosikan diagnosis dan pengobatan TBC selama masa pandemi melalui akun sosial media dokter-dokter yang turut aktif sebagai influencer.

 

Keluaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ruang Lingkup Pekerjaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tugas dan Tanggung Jawab

 

 

 

 

  1. Laporan sosial media dari 4 konten audio visual kolaborasi antara duta TB STPI dan penyintas TBC yang menekankan pada tidak beresikonya akses layanan diagnosis TBC di masa pandemi serta pelayanan  pengobatan yang gratis. Keempat konten tersebut berbentuk story sharing dari duta TBC dan penyintas TBC yang diposting di sosial media STPI dan duta TBC STPI dengan target jangkauan minimal 5000/konten.
  2. Laporan sosial media dari 30 konten kampanye digital yang dilakukan oleh 30 influencer lokal berkaitan dengan peningkatan kesadaran mengenai gejala TBC dan tes TBC. Setiap konten memiliki target jangkauan minimal 2000/konten.
  3. Laporan sosial media dari 60 konten kampanye digital yang dilakukan oleh 30 orang TikDok yang berkaitan dengan tidak beresikonya akses layanan kesehatan untuk diagnosis dan pengobatan TBC di masa  pandemi. Setiap konten memiliki target jangkauan rata-rata 10.000/konten.

 

 

  1. Diskusi concept plan dengan Tim STPI (script/story board)
  2. Melakukan koordinasi dan perjanjian kerja sama dengan 1 duta TBC dan 4 penyintas TBC,
  3. Melakukan koordinasi dan perjanjian kerja sama dengan 30 influencer lokal (lokasi sesuai lampiran 1),
  4. Melakukan koordinasi dan perjanjian kerja sama dengan 30 orang anggota TikDok
  5. Penyusunan konten publikasi:

a.    4 konten audio visual yang melibatkan Duta TBC dan Penyintas TBC, dengan pesan kunci keamanan akses layanan diagnosis TBC di masa pandemi serta menekankan bahwa informasi yang didapatkan dari tenaga kesehatan adalah informasi yang lebih dapat dipercaya.

b.    30 Konten sosial media (facebook/instagram/twitter) yang melibatkan 30 influencer lokal, dengan pesan kunci bahwa orang dengan gejala TBC (batuk lebih dari 2 minggu) dianjurkan untuk mengakses layanan kesehatan dan mendapatkan diagnosis yang sesuai.

c.     60 Konten TikTok (30 di Hari Kesehatan Nasional dan 30 di Hari TBC dunia) yang melibatkan 30 anggota TikDok, dengan pesan kunci tidak beresikonya akses layanan kesehatan untuk orang dengan gejala TBC di masa pandemi.

6. Melakukan produksi dan editing konten

7. Placement konten publikasi

8. Menyusun laporan analytic sosial media dari setiap konten

9. Membuat laporan perkembangan kegiatan

10. Berkoordinasi secara berkala dengan tim STPI

 

Konsultan bertanggung jawab untuk mengelola keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan hasil akhir dari kegiatan ini.

  1. Memaparkan kerangka concept plan konten dari setiap talent dan mengintegrasikan masukkan dari tim STPI ke dalam concept plan
  2. Melakukan koordinasi dan perjanjian kerja sama dengan 1 duta TBC dan 4 penyintas TBC
  3. Melakukan koordinasi dan perjanjian kerja sama dengan 30 influencer lokal (lokasi sesuai lampiran 1)
  4. Melakukan koordinasi dan perjanjian kerja sama dengan 30 orang anggota TikDok
  5. Menyusun seluruh konten publikasi sesuai dengan ruang lingkup pekerjaan
  6. Mengelola produksi dan editing konten
  7. Mengelola placement konten publikasi
  8. Melaporkan analytic sosial media dari setiap konten

9.    Melaporkan kemajuan aktivitas sesuai dengan lingkup pekerjaan

10.  Berkoordinasi secara berkala dengan tim STPI

 

Lokasi kegiatanDaring dan Luring

 

Waktu PelaksanaanSesuai timeline (Lampiran 2)

 

Tim Supervisi

 

Pagu Anggaran

 

Konsultan akan bertanggung jawab kepada Senior Program Manager

 

Rp  450,000,000  (ADVANCE TB BL. 2.3.6, 2.3.7, dan 2.3.8)

 

Kualifikasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dokumen yang perlu dilampirkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bobot Penilaian Rekrutmen

 

 

Timeline Rekrutmen

 

 

 

 

 

 

Konsultan harus mempunyai kualifikasi sebagai berikut:

1.    Merupakan organisasi atau badan usaha yang memiliki pengalaman dalam kampanye atau penyiaran, diutamakan dalam bidang kesehatan.

2.    Memiliki pengalaman berkoordinasi dan berkontrak dengan dengan talent (influencer)

3.    Memiliki jejaring dan sumber daya yang memadai untuk pengelolaan kampanye media sosial yang bekerja sama dengan talent

4.    Kandidat harus terdaftar sebagai badan usaha/organisasi yang teregistrasi dan diatur oleh hukum di Indonesia

 

Setiap kandidat konsultan wajib mengirimkan proposal dan dokumen

pendukung sebagai berikut:

1.    Proposal terdiri dari:

a.    Concept note kampanye perubahan perilaku orang dengan gejala tuberkulosis dan pengelolaan influencer (Latar belakang, Tujuan, Keluaran, Pendekatan, Desain kampanye, dan alur kerja)

b.     Rencana Anggaran Biaya

c.      Timeline kegiatan

d.     Tim kerja

 

2. Dokumen pendukung terdiri dari:

●        Expression of Interest (English/Bahasa Indonesia)

●        Profil organisasi

●        Portofolio hasil kerja yang relevan

●        KTP direksi/direktur/pendiri organisasi/pejabat yang berwenang di

organisasi (salinan)

●        CV tim kerja terbaru

●        Akta notaris

●        NPWP

 

Kelengkapan dokumen: 10%

Proposal: 45%

Wawancara: 45%

 

1.    Penayangan iklan: 18 Oktober 2021 – 30 Oktober 2021

2.    Batas waktu penerimaan lamaran: 30 Oktober 2021 23:59 WIB

3.    Verifikasi proposal dan kelengkapan administrasi: 1 – 3 November 2021

4.    Shortlist kandidat: 4-5 November 2021

5.    Wawancara (daring): 9-11 November 2021

6.    Pengumuman hasil seleksi: 15 November 2021

7.    Negosiasi dengan kandidat: 16-18 November 2021

8.    Penandatanganan kontrak: 22 November 2021

 
 

BERMINAT UNTUK MENDAFTAR?

Kirimkan lamaran beserta dokumen yang dibutuhkan melalui email ditujukan kepada: admin@stoptbindonesia.org dengan subject ‘(Nama Organisasi)_Konsultan Pengelolaan Kampanye Media Sosial Untuk Perubahan Perilaku Orang Dengan Gejala Tuberkulosis.’ Diterima paling lambat 30 Oktober 2021 pukul 23.59 WIB.

Catatan:

  • Tiga kandidat dengan nilai kelengkapan dokumen dan proposal tertinggi yang akan diundang ke tahap wawancara.
  • Pengumuman hasil seleksi dapat dilihat di https://bit.ly/stpi-pengumuman

 

[1] Stop TB Partnership, Imperial College, Avenir Health, Johns Hopkins University, & USAID. (n.d.). The Potential Impact Of The Covid-19 Response On Tuberculosis In High-Burden Countries: A Modelling Analysis.

[2] Stop TB Partnership Indonesia (2020). Survei Monitoring Protokol Pelayanan TBC di Masa Pandemi COVID-19 Diakses dari https://www.stoptbindonesia.org/single-post/hasil-survei-monitoring-protokol-pelayanan-tbc-di-masa-pandemi-covid-19

[3] ibid

[4] Asik et al. 2017. Quality Tuberculosis Care in Indonesia: Using Patient Pathway Analysis to Optimize Public–Private Collaboration. The Journal of Infectious Diseases, Vol. 216 (7), 1 Oktober 2017, Hal. S724–S732.

[5] Prochaska, J. O., & Velicer, W. F. (n.d.). The Transtheoretical Model of Health Behaviour Change. American Journal of Health Promotion, 1997.

[6] Bandura, A. 1977. Social learning theory. Prentice-Hall

[7] Wiliana E, Purnaningsih N , Muksin N. 2021. Pengaruh Influencer dan Sosial Media Instagram Terhadap Keputusan Pembelian Sate Taichan Goreng Di Serpong. Prosiding Sinamu Simposium Nasional Multidisiplin Universitas Muhammadiyah Tangerang. Diakses pada http://jurnal.umt.ac.id/index.php/senamu/article/view/3464.

[8]Nistanto R, 2021. Berapa Lama Orang Indonesia Akses Internet dan Medsos Setiap Hari?”. diakses pada 11 Oktober 2021 di https://tekno.kompas.com/read/2021/02/23/11320087/berapa-lama-orang-indonesia-akses-internet-dan-medsos-setiap-hari-?page=all.

  • This job has expired!
Share this job
Company Information
  • Total Jobs 2 Jobs
  • Location
Connect with us
Contact Us

NGO Job Search

CONTACT US

How we can help ? Please feel free to CONTACT US

About us / Disclaimer

DevJobsIndo.ORG is not affiliated with devjobsindo yahoo mailing groups.MORE